Tampilkan postingan dengan label Nanggroe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nanggroe. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2015

Himaspta Bantu Rohingya

BANDA ACEH - Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Kecamatan Blangbintang (Himaspta), Senin (1/6) malam mengirim bantuan untuk muslim Rohingya di Kuala Langsa dan Bayeun, Aceh Timur serta di Kuala Cangkoi, Aceh Utara. Bantuan itu dikirim Asnawi, tokoh masyarakat Blangbintang yang juga Kepala BKPP Aceh Besar.
“Bantuan itu bersumber dari bantuan masyarakat Blangbintang. Penggalangannya dilakukan pengurus Himaspta di beberapa titik dalam kecamatan Blangbintang,” kata Asnawi dalam rilis yang diterima Serambi, Selasa (2/6). Dikatakan, bantuan tahap satu itu sebanyak satu truk dan dua hari ke depan akan dikirim satu truk ladi.
Ketua Umum Himaspta, Rizwansyah, menambahkan bantuan itu di antaranya berupa perlengkapan bayi dan pakaian layak pakai serta sembako. “Untuk tahap pertama, kami kirim ke Kuala Langsa dan dalam beberapa hari ke depan akan kami sampaikan ke daerah Bayeun dan Kuala Cangkoi, Aceh Utara. Bantuan itu terkumpul atas partisipasi yang tinggi dari seluruh masyarakat Blangbintang,” sebut Rizwansyah didampingi Koordinator Bantuan Kemanusiaan, Bayu.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen, Selasa (2/6) juga menyalurkan bantuan sebanyak tujuh truk colt diesel untuk pengungsi Rohingya di Kuala Cangkoi, Bayeun, dan Kuala Langsa. Penyaluran bantuanitu dipimpin Bupati Bireuen, Ruslan M Daud.
Bupati menyebutkan, bantuan yang disalurkan antara lain, sembako, pakaian layak pakai, mi instan, air mineral, perlengkapan mandi, buku, alquran, dan obat-obatan.
“Bantuan itu merupakan sumbangan masyarakat, pelajar, guru, dan donator yang digalang bersama selama dua pekan. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang sudah menyumbang berbagai bantuan untuk muslim Rohingya,” kata Ruslan.
Dalam rombongan Pemkab Bireuen, juga bergabung relawan Front Pembela Islam (FPI) Bireuen yang sama-sama mengantarkan bantuan untuk Muslim Rohingya. Sebelumnya, anggota Asosiasi Juang Usaha Motor (AJUM) Bireuen juga menyalurkan bantuan untuk Rohingya yang ditampung di Kuala Cangkoi.(mir/c38


Minggu, 01 September 2013

Resep Sukses Bisnis Ala Suparno

            Aceh Besar– Bicara soal masakan, memang tidak pernah habisnya. Setiap daerah memiliki beragam ciri khas masakan yang diwarisi nenek moyang masing-masing. Namun bagaimana agar cita rasa makanan khas tersebut tetap utuh dan dapat dipasarkan sampai ke penjuru dunia.

Dalam sebuah pelatihan kewirausahaan, Pengusaha Sukses Rumah Makan Ayam Lepaas, Suparno STP mengatakan, jika ingin maju dalam berbisnis, maka berhijrahlah dari daerah asal ke tempat yang lain. Supaya tidak terhambat dengan kesibukan kekerabatan.

“Kalau ingin sukses itu dengan satu syarat, yaitu keluar dari kampung tempat kita tinggal,” ujar Suparno STP ketika memberi materi pada Pelatihan Kewirausahaan bagi Pemuda Aceh Besar, Kamis (29/08/2013) di Hotel Noris.

Suparno mengakui makanan  khas Aceh yang paling enak saat ini itu milik orang Aceh Besar, yaitu Sie Reuboh dan Kuwah Beulangong. Namun sayangya, banyak rumah makan khas tersebut bukan orang Aceh Besar sendiri yang memilikinya, tapi orang Pidie. Alasanya, orang Pidie pintar dalam berbisnis.

“Di Banda Aceh saja kita lihat yang jualan bukan orang-orang Aceh Rayeuk. Coba pergi ke seluruh nusantara, coba buka warung masakan Aceh, masakan kita lebih enak dari pada masakan Padang,” ungkapnya.

Bila melihat sejarah, Belanda saja datang ke Aceh hanya untuk mencari rempah-rempah, artinya mereka mencari bumbu masakan karena masakan di negara mereka itu hambar, sehingga mereka ke Aceh, sebab di Aceh banyak tumbuh rempah-rempah.

Menurut Suparno, pada dasarnya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Dan sukses itu bukan soal takdir, tetapi  soal kemauan seseorang.

“Allah menganugerahkan kepada kita panca indra yang sehat, cuma sejauh mana usaha kita. Kerja konsisten lah yang membuat kita hebat,” tandasnya.

Ia menjelaskan, sekarang banyak orang Padang yang sukses di mana-mana. Mereka sejak kecil sudah punya perencanaan jika dewasa nanti mau kemana dana mau jadi apa. Jadi, mereka tidak ada istilah asoe lhok (orang dalam-red) yang hanya menetap di tempat sendiri.

“Kalau masih berfikir seperti itu, akan menghambat kemajuan kita. Jaman sekarang banyak orang luar yang jualan di tempat kita, karena mereka pakai sistem itu,” tegas Suparno.

Ia juga menyarankan, kalau ingin pandai berbisnis, berkerjalah sama orang yang pandai berbisnis.  Tak perlu berpikir soal uang, yang penting ilmunya, karena ilmu lebih mahal dari pada uang. Makanya kata Suparno, berbeda orang berilmu pegang uang dengan orang yang tidak berilmu.

“Orang berilmu akan mengembangkan uang tersebut, sementara orang yang tak berilmu mereka akan menggunakan untuk hal tak bermanfaat,” tutupnya.
(sp / atjehlink.com)